Apakah perbedaan kios buah di Bangkok dan di Jakarta? Di Bangkok, buah yang dijajakan adalah produk nasional. Sama sekali tak ada buah impor. Di Jakarta kios-kios buah kakilima pun didominasi oleh buah impor. Mulai dari apel, anggur, jeruk sankist maupun mandarin serta buah pir. Kalau bulan Ramadhan tiba maka yang mendominasi kios buah tadi ganti kurma. Rata-rata impor buah segar kita berkisar antara 150.000 sampai 200.000 ton per tahun. Ini semua terjadi bukan karena rakyat Indonesia sok luar negeri, melainkan karena produksi nasional kita memang masih sangat kurang. Tingkat konsumsi buah nasional kita baru sekitar 40 kg per kapita per tahun. Sementara standar minimal yang dianjurkan oleh FAO adalah 60 kg per kapita per tahun. Kalau selisih angka ini dianggap sebagai peluang usaha, maka tiap tahunnya Indonesia masih memerlukan tambahan sekitar 4.000.000 ton buah segar. Produksi buah tanaman keras seperti mangga, jeruk, belimbing dan lain-lain sekitar 20 ton per hektar per tahun. Jadi sampai saat ini masih ada peluang untuk membuka sekitar 200.000 hektar kebun buah.

Kalau kita juga menginginkan perolehan devisa dari ekspor buah, maka peluang untuk membuka kebun buah itu lebih besar lagi. Yang harus kita incar bukannya Eropa, Jepang, AS atau Timur Tengah. Eropa, Jepang dan AS sangat rewel. Timur tengah yang kaya, penduduknya sedikit. Yang harus kita incar adalah RRC. Dengan pertumbuhan ekonomi yang luarbiasa, dengan jumlah penduduk yang 1,2 milyar jiwa, dengan orientasi ke depan lebih tertuju pada sektor industri, RRC adalah pasar buah-buahan tropis yang luarbiasa. Ini sudah dibuktikan oleh PT Golbal Agronusa Indonesia (GAI) di awal tahun 90an. Kebun pisang cavendish anak perusahaan Sinar Mas Group di Halmahera ini mula-mula bekerjasama dengan Arthal Internasional untuk memasok pasar Jepang. Tetapi jepang menuntut persyaratan yang sangat ketat. Ada satu bintik cokelat kecil pun ditolak. Bentuk pisangnya agak bengkok sedikit juga dianggap mengganggu mata hingga mereka tak mau. Maka pasar pun dibelokkan ke RRC yang meskipun membayar dengan  harga rendah, namun persyaratannya ringan dan berapa pun volumenya akan diterima.

Seorang eksportir yang biasa main produk pertanian ke Singapura, Hongkong dan Taiwan selalu ditagih untuk mencarikan pisang apa saja guna mamasok RRC. Soalnya setelah ada kerusuhan berkepanjangan di Maluku, PT GAI tutup. Hingga pasar RRC mengalami kekurangan pasokan. Ini baru soal pisang. Belum pepaya, nanas, mangga, jeruk, manggis, rambutan, durian dan masih ada belasan buah lain yang pasar ekspornya relatif bagus. Tetapi bagaimana dengan Thailand yang selama ini dikenal sebagai penghasil dan pemasok buah tropis paling handal di dunia? Selama ini Thailand justru sangat kesal dengan Indonesia. Bukan karena takut Indonesia bakal menjadi pesaingnya, tetapi justru karena negeri kita ini tak kunjung bersedia untuk mengembangkan buah-buahan. Petani durian Thailand selalu menganjurkan agar Indonesia mau mengembangkan durian dan mereka ingin sekali membantu. Sebab panen durian Indonesia terjadi sekitar bulan-bulan Desember dan Januari. Pas saat itu durian Thailand kosong. Hingga Indonesia bisa mengisinya.

Beda dengan Thailand, komoditas buah-buahan di Indonesia memang masih menjadi anak tiri. Ditjen Hortikultura yang menangani tanaman buah, sayuran dan tanaman hias, malahan pernah dibubarkan pada waktu resafel Kabinet 100 Menteri menjadi Kabinet Ampera di tahun 60an. Lembaha ini baru dihidupkan lagi pada akhir tahun 80an tetapi hanya berupa Direktorat. Berarti komoditas buah-buahan hanya ditangani oleh Sub Direktorat. Ditjen Hortikultura baru diadakan lagi tahun 1999 kemarin dan dari definitif operasional tahun 2000. Pihak perbankan pun menganggap komoditas buah-buahan sebagai sesuatu yang aneh. Kalau ada investor mengajukan proposal kebun buah ke bank, jawaban yang diperolehnya selalu berupa pertanyaan: “Mengapa tidak sawit?” Padahal investasi sawit hanyalah Rp 20.000.000,- per hektar namun harus dengan skala puluhan ribu hektar. Investasi kebun buan tanaman keras, memerlukan dana paling sedikit Rp 50.000.000,- per hektar. Namun dengan skala minimal 10 hektar sudah cukup. Di Australia, skala kebun buah Tropis ini malahan bisa hanya 5 hektar per KK.
Dengan modal Rp 50.000.000,- per hektar, untuk pengembangan skala minimal 10 hektar diperlukan dana Rp 500.000.000. Dari angka tersebut dana untuk pengadaan air akan mencapai Rp 250.000.000,- Rinciannya, Rp 80.000.000,- untuk pengadaan deep well, Rp 50.000.000,- untuk reservoar, Rp 25.000.000,- untuk  pipa, Rp 25.000.000,- untuk jalan makadam dan yang Rp 50.000.000,- untuk bangunan dan isinya. Dari Rp 250.000.000,- sisanya Rp 150.000.000,- akan diserap untuk operasional sampai tanaman menghasilkan. Jangka waktunya antara 1,5 tahun (jeruk siam) 3 tahun (mangga) sampai 5 tahun (durian). Hingga hanya Rp 100.000.000,- yang benar-benar diserap untuk land kliring, membeli bibit dan ongkos tanam. Angka-angka tersebut bisa membengkak lebih besar di suatu kawasan yang sarana/prasarananya belum memadai. Sebaliknya bisa menyusut drastis apabila di lokasi tersebut tersedia sarana pengairan yang cukup baik. Misalnya ada waduk, rawa atau sungai yang debitnya cukup besar sepanjang tahun. Sebab air adalah syarat mutlak untuk agribisnis apapun termasuk buah-buahan.

Kalau kita ingin modal yang ditanam cepat berputar, maka pilihan sebaiknya dijatuhkan ke tanaman pisang, nanas, pepaya, salak, jeruk siam, belimbing, jambu air, jambu biji dan anggur. Kalau kita ingin yang agak lebih lama, komoditasnya mangga, jeruk keprok/manis, rambutan, sawo dan nangka. Yang jangka waktunya lebih lama lagi adalah durian, duku dan manggis. Kelemahan agribisnis buah-buahan adalah, diperlukan masa grace period yang lebih lama. Kalau kita mananam pisang ambon kuning misalnya, grace period 1 tahun bisa diterima meskipun agak berat. Tetapi kalau kita menanam durian, diperlukan grace period sampai 5 tahun. Kebanyakan kalangan perbankan akan keberatan. Cara untuk mengatasi permasalahan ini adalah dengan melakukan tumpangsari antara tanaman buah-buahan dengan palawija. Misalnya, setelah land kliring dan sarana air tersedia, segera lahan  ditanami kacang tanah atau ubi jalar. Baru kemudian mangga atau durian ditanam. Singkong, jagung dan padi gogo tidak dianjurkan sebagai tanaman tumpangsari karena potensial menghambat bahkan merusak tanaman pokok.

Komoditas buah-buahan tanaman keras, selain memiliki beberapa kelemahan seperti masalah grace period tadi, juga rawan penjarahan. Hingga faktor keamanan menjadi hal yang utama. Pendekatan keamanan ini tidak cukup dilakukan dengan membayar tentara atau polisi untuk menjadi centeng kebun. Pendekatan sosial tetap diperlukan. Masyarakat sekitar kebun perlu diberi pekerjaan hingga pendapatan mereka bisa meningkat. Bahkan ketika Prof. Dr. Goeswono Supardi menjadi Direktur kebun mangga Galasari Gunung Swadaya di Gresik sana, dia melakukan pendekatan keamanan dengan jasa paranormal. Bukan berarti profesor tersebut percaya klenik dan tahayul, melainkan karena hal tersebut dituntut oleh mayoritas staf di kebunnya. Dan kenyataannya, fenomena supra natural demikian memang ada di masyarakat mana pun termasuk di Eropa dan AS. Kelemahan lain dari agribisnis buah-buahan adalah, pendapatan yang diperoleh bersifat musiman, sementara pengeluarannya harus tetap rutin. Hingga kebun-kebun karet yang diubah jadi kebun durian di provinsi Rayong, Thailand, selalu menyisakan karetnya untuk menanggulangi masalah cash flow.

Kelebihan kebun buah-buahan tanaman keras juga banyak. Misalnya, sekali investasi, selanjutnya tinggal memanen dan merawat tanaman. Durian misalnya, bisa tetap produktif sampai di atas 20 tahun. Manggis bahkan bisa sampai 50 tahun. Semakin tua umur tanaman, produksinya juga akan semakin meningkat. Mangga yang mulai belajar berbuah pada umur 3 tahun, hasilnya baru sebatas 1 sampai 2 kg per tanaman per musim. Tetapi pada umur 8 tahun, satu tanaman bisa menghasilkan sampai 60 kg. Kalau populasi tanaman mangga per hektarnya mencapai 375 tanaman (jarak tanam 4 X 6 m), maka hasil per hektarnya sudah mencapai 20 ton. Dengan harga Rp 2.000,- per kg, hasil per hektarnya akan mencapai Rp 40.000.000,- Pada umur tanaman lebih dari 10 tahun, hasil per tanaman per musim bisa mencapai 100 kg. Berarti hasil per hektarnya akan mencapai 37,5 ton. Pendapatan kotor per hektar per tahun bisa mencapai Rp 75.000.000,- Hasil ini akan terus meningkata apabila perawatan dilakukan secara benar.

Tentu akan timbul pertanyaan. Benarkan pasar buah-buahan nasional masih sebesar 4.000.000 ton per tahun? Sebagai gambaran, di seluruh Jawa Timur saat ini ada sekitar 5.000 hektar kebun mangga berskala komersial. Kalau hasil rata-ratanya 50 kg per tanaman per tahun maka mangga kualitas baik yang dihasilkan dari kebun tersebut sudah mencapai lebih dari 75.000 ton. Tetapi kita belum pernah bisa melayani permintaan importir luar negeri secara memuaskan. Bukan karena mutu mangga kita jelek, melainkan karena volume mangga berkualitas baik tersebut masih habis terserap di dalam negeri. Di Jawa Barat ada kebun jeruk Frimong seluas 500 hektar. Kalau hasil per tahunnya 50 kg per tanaman, maka total ada lebih dari 9.000 ton jeruk. Dan itu semua cukup diserap oleh Bandung. Jakarta tidak pernah kebagian. Di Sumsel, ada 200 hektar kebun belimbing yang juga habis diserap oleh Palembang. Ingin tahu berapa ton pisang Lampung yang masuk Jakarta? Rata-rata 75 truk kapasitas 6 ton per hari. Dan itu pun masih ada sekitar 3 bulan Jakarta kekurangan pisang kualitas A dan B. (FR)++

Sumber:  forum kerjasama agribisnis

About these ads