SEMARANG- Kelengkeng impor yang sedang musim dari Juli hingga September membanjiri Semarang belakangan ini.

Buah bernama latin euphoria longana yang berasal dari Thailand ini, selain banyak ditemui di pasar tradisional dan supermarket, juga dipasarkan di pinggir jalan-jalan protokol Kota Semarang. Buah itu tiap hari laku 10 ton.

Ironisnya, kelengkeng lokal yang berbulir kecil dengan kulit cokelat gelap saat ini sulit ditemui. Keberadaan kelengkeng bangkok ini mulai menggeser kelengkeng lokal karena lebih menarik minat konsumen. Kelengkeng bangkok yang berbulir besar, berdaging tebal, dan berkulit kuning kecokelatan lebih mendominasi. Harga yang ditawarkan relatif murah yakni Rp 10 ribu-Rp 15 ribu per kilogram.

Rohadi (21), penjual kelengkeng di Jl Veteran mengaku dalam sehari dia bisa menjual paling tidak 10 keranjang atau sekitar 120 kg kelengkeng. Jumlah itu hanya sebagian dari yang ia beli bersama teman-temannya di gudang buah impor di Terboyo. “Kami beli patungan bersama-sama, jadi dapat harga lebih murah karena beli dalam jumlah besar,” ujarnya.

Pedagang asal Demak yang sejak dua tahun ini berjualan dengan mobil di pinggir jalan itu, juga mengaku buah yang dia jual tergantung musim. Bila musim jeruk dia berjualan jeruk, kalau musim mangga, pihaknya berjualan mangga.

Ketika ditemui terpisah, Hidayat (50), mandor Gudang Buah Kumala Mass mengatakan, kelengkeng bangkok yang di gudang buah tersebut berasal dari Jakarta.

“Kami membelinya dari importir di Jakarta. Buah ini tidak impor langsung dari Thailand. Truk berisi buah datang dari Jakarta setiap hari,” tuturnya.(K7-56)