Sejak empat tahun silam, pemerintah menggalakkan pemanfaatan pupuk majemuk. Apa sih kelebihannya dibandingkan pupuk tunggal yang sudah lama dikenal petani?

Petani umumnya lebih biasa menggunakan pupuk tunggal, yaitu pupuk yang hanya mengandung satu jenis hara saja. Misalnya, Urea hanya mengandung hara nitrogen (N). SP-36 hanya dipentingkan fosfat (P)-nya saja, tapi sebetulnya juga mengandung sulfur (S).  Atau KCl yang diutamakan sebagai sumber kalium (K).

Sedangkan pupuk majemuk adalah pupuk yang mengandung lebih dari satu jenis hara. Ambil contoh, NPK, Nitrophoska, dan Rustika. NPK misalnya, menjadi sumber tiga unsur hara bagi tanaman, yaitu N, P, dan K. Namun NPK sebenarnya tidak melulu terdiri dari tiga unsur hara tersebut. Produsen-produsen NPK menambahkan unsur hara lain sesuai target komoditas yang memanfaatkannya.

Untuk mencukupi kebutuhan tanaman, petani pemakai pupuk tunggal tentu saja haru menyediakan paling tidak tiga macam pupuk, Urea atau ZA, SP-36, dan KCl atau KNO3. Sedangkan pengguna pupuk majemuk tinggal membeli satu macam pupuk saja, misal NPK. Dari sisi ketersediaan di pasar, pupuk tunggal khususnya Urea yang bersubsidi sering menghilang. Jadi, petani tidak lengkap memasok tanamannya. Apalagi dengan dicabutnya subsidi terhadap pupuk KCl sehingga harganya bisa mencapai Rp6.500—Rp7.000 per kg, semakin kuranglah sumber K bagi tanaman.

Namun demikian pupuk tunggal mempunyai nilai plus bisa diramu sendiri oleh petani sesuai kebutuhan lahan dan tanamannya. Misalnya, akan membuat NPK dengan komposisi 15 : 15 : 15. Bila kandungan N, P, K pada Urea, TSP, KCl masing-masing 46%, 46%, dan 60%, maka petani membeli 33 kg Urea, 33 kg TSP, dan 25 kg KCl.

Melihat sisi negatif pupuk tunggal, petani didorong untuk mengaplikasikan pupuk majemuk. Menurut Sutisna Sintaatmadja, Penanggung Jawab Produksi NPK di PT Pupuk Kujang, pupuk majemuk, khususnya NPK, menawarkan sejumlah kelebihan dibandingkan pupuk tunggal. Lebih mudah aplikasinya; lebih lengkap dan seimbang kandungan unsur haranya, lebih seragam penyebaran unsur haranya; lebih efisien penggunaannya; lebih efisien dalam penggunaan tenaga kerja dan waktu; serta lebih mudah pengadaan dan penyimpanannya.

Masih Enggan

Meskipun demikian tidak serta merta petani mau beralih ke pupuk majemuk. Hal ini dibenarkan Ir. Sonson Garsoni, Direktur PT Cipta Visi Sinar Kencana, produsen pupuk di Bandung. “Penggunaan pupuk majemuk itu sebenarnya lebih hemat, tapi perlu waktu agar petani terbiasa. Kita akan sosialisasikan dan beri kemudahan dalam menyalurkannya,” ungkap insinyur pertanian ini.

Selain belum terbiasa, keengganan petani juga tidak bisa terlepas dari faktor harga. Umumnya pupuk majemuk lebih mahal ketimbang pupuk tunggal, kecuali untuk KCl yang kini tak disubsidi lagi. Urea, ZA, SP-36 masing-masing Rp1.200, Rp1.050, Rp1.550 per kg. Sementara harga NPK berkisar Rp1.586—Rp1.830 per kg tergantung komposisi dan produsennya. Apalagi kalau petani terpaksa membeli yang nonsubsidi, harganya jauh lebih mahal, bisa berkisar Rp6.500—Rp7.500 per kg. Padahal, menurut Sutisna, kalau dihitung-hitung total biaya pemupukan, pemakaian pupuk majemuk bisa lebih murah

Jangankan petani biasa, pengelola perkebunan swasta yang relatif lebih “melek” tentang pupuk karena punya tenaga ahli pun tak semuanya menggunakan pupuk majemuk. Seperti dikatakan Hikolina C. Pardede, Direktur PT Curah Niaga Internasional, importir pupuk, “Saya katakan ada satu perkebunan besar sampai sekarang tidak pernah mau menggunakan pupuk majemuk dan tetap konservatif menggunakan pupuk tunggal. Dan bukan satu dua perkebunan besar saja, rata-rata perkebunan besar masih menggunakan pupuk tunggal.”

Banyak Macamnya

Pupuk majemuk bukan hanya NPK. NPK saja komposisinya juga beragam tergantung target komoditasnya. Pupuk Kujang misalnya, memproduksi tak kurang dari 50 varian untuk berbagai komoditas. Demikian pula bentuk pupuknya, NPK pun tak melulu butiran. Ada yang blending, tablet, juga cair.

Kecuali NPK, di pasaran terdapat sejumlah merek pupuk majemuk dengan variasi komposisi dan bentuk. Termasuk di dalamnya pupuk organik yang mengandung banyak macam unsur hara.

Aplikasi pupuk majemuk yang tepat, seperti di Australia, petani memesan pupuk dengan komposisi tertentu berdasarkan analisis hara tanah. Atau, datang ke produsen dengan membawa contoh tanah dan informasi jenis komoditas yang akan ditanam, kemudian produsen akan memproduksi pupuk komposisi paling tepat.

Peni SP, Tri Mardi, Selamet Riyanto