Dalam acara Flona (Flora dan Fauna) di Lapangan Banteng Jakarta, Agustus yang lalu, jambu biji tanpa biji (seedless) eks Taiwan, banyak dicari orang. Jambu biji (Psidium guajava), pasti banyak bijinya. Cara mengkonsumsi jambu biji, karenanya harus dengan menelan biji berdiemeter sekitar 1 mm, yang jumlahnya sangat banyak dan menyatu dengan daging buah. Inilah yang tidak disukai konsumen. Karenanya, buah jambu biji, terutama yang berdaging merah, lalu sering dibuat juice. Jambu biji merah ini dipercaya masyarakat, bisa mempercepat penyembuhan penderita penyakit demam berdarah. Dengan dibuat juice, biji jambu biji merah maupun putuh, bisa disaring hingga tidak ikut tertelan ketika juice dinikmati. Di Thailand, jambu biji hanya dikonsumsi bagian “kulitnya” yang tebal. Sementara daging buah yang ada bijinya dibuang. Sama  dengan cara mereka mengkonsumsi buah kecapi. Yang dimakan bukan daging buah yang melapisi biji, melainkan kulitnya  yang di Indonesia justru dibuang.

Di Indonesia memang ada jambu sukun. Jambu biji yang tidak berbiji. Tetapi buahnya kecil-kecil dan produktivitasnya sangat rendah. Itulah sebabnya ketika terbetik kabar tentang adanya jambu sukun taiwan, maka para kolektor tanaman buah segera berebut memburunya. Sebab jambu sukun taiwan ini, buahnya seukuran jambu biji bangkok yang memang  terkenal besar-besar. Selain itu, produktivitasnya juga tinggi. Ciri khas jambu sukun taiwan adalah, daunnya tebal, berwarna hijau tua dan kekar. Beda dengan jambu sukun kita yang daunnya lebih tipis danwarna hijaunya agakpudar. Ciri khas daun jambu sukun taiwan ini, mengingatkan pada daun jeruk seedless yang juga tebal, berwarna hijau tua dan kekar. Ciri ini merupakan indikasi tanaman dengan 44 cromosom (4N) atau tetraploid. Tanaman biasa, berkromosom 22 (2N) dan disebut diploid. Untuk melipatduakan kromosom tanaman, biasanya para pemulia menggunakan colchisine (C22 H25 NO6). Colchisine adalah kristal alkaloid berwarna kuning yang sangat beracun, yang diekstrak dari biji Colchicum autumnale. Bahan ini bisa diperoleh di apotik, tetapi harus dengan resep dokter karena merupakan obat keras.

Benih tanaman yang baru tumbuh dari biji, kalau pucuknya ditetesi colchisine, kromosomnya akan menjadi duakali lipat. Tanaman berkromosom empat ini, akan bisa tumbuh normal dan berbuah. Buahnya juga akan menghasilkan biji. Kalau tanaman berkromosom empat ini disilangkan dengan tanaman biasa yang berkromosom dua, maka hasilnya akan ada yang tetap sama dengan dua induknya (2N dan 4N), tetapi ada pula yang menjadi 3N atau triploid. Tanaman berkromosom tiga inilah yang akan menghasilkan buah tanpa biji. Sebenarnya, pengertian tanpa biji di sini adalah, biji dalam buah tersebut menjadi infertil (mandul) hingga tidak bisa tumbuh sempurna. Hanya berupa bintik-bintik putih kecil yang kalau daging buahnya  dikonsumsi, tidak akan menjadi gangguan. Karena masih mewarisi induk 4Nnya, maka daun tanaman triploid masih cukup tebal, hijau dan kekar. Hingga tampak berbeda dengan tanaman biasa yang diploid. Teknologi pemuliaan tanaman dengan colchisine, sudah lazim digunakan pada produksi benih semangka tanpa biji. Karena prosesnya yang rumit dan menggunakan bahan farmasi dengan harga cukup tinggi, maka benih semangka tanpa biji, yang oleh pedagang buah disebut “non biji” menjadi lebih bernilai didanding semangka biasa yang banyak bijinya.

Ternyata, teknologi pembenihan tanaman buah tanpa biji ini, juga bisa dilakukan terhadap buah-buahan tanaman keras seperti jeruk dan jambu biji. Caranya persis sama dengan pembenihan semangka tanpa biji. Kalau dalam pembenihan semangka, jangka waktunya pendek, maka pada buah-buahan tanaman keras lebih lama. Dalam jangka waktu 3 bulan, semangka hasil pelipatduaan kromosom sudah bisa dipetik buahnya. Demikian pula semangka hasil silangan 2N dengan 4N yang sebagian akan menjadi triploid dan tanpa biji. Dalam jangka waktu hanya 3 bulan bisa dipanen. Hingga paling lama, proses pembenihan semangka tanpa biji hanya makan waktu 8 bulan termasuk persiapan lahan.   Pada jeruk dan jambu biji, jangka waktu panen tanaman dengan benih dari biji, akan makan waktu 3 sd. 4 tahun. Demikian pula tanaman hasil silangannya. Hingga penciptaan jeruk dan jambu biji seedless memerlukan waktu 7 sd. 10 tahun. Itu pun baru akan menghasilkan tanaman induk yang masih perlu diperbanyak lagi.

Karena produksi benih semangka tanpa biji dengan cara penyilangan cukup tinggi biayanya, mulailah di Jerpang dilakukan perbanyakan dengan teknik sambung pucuk. Semangka triploid yang sudah ada, diambil pucuknya terus menerus, hingga menjadi terhambat pertumbuhan generatifnya (berbunga dan berbuah). Pucuk tersebut lalu disambungkan pada tanaman semangka biasa atau malahan pada labu. Dengan cara ini, satu biji benih semangka tanpa biji, bisa menghasilkan puluhan individu tanaman seedless, hingga terjadi penghematan. Pada buah-buahan tanaman keras, sama sekali tidak mungkin memproduksi benih berupa biji secara massal. Sebab jangka waktunya akan sangat lama. Karenanya teknik sambung pucuk dan okulasi (mata tempel), menjadi lebih mutlak. Setelah benih tanaman buah triploid terbukti menghasilkan buah yang seedles, maka selanjutnya tanaman induk tersebut diambil pucuk serta mata tempelnya untuk diperbanyak. Pada jeruk, pucuk serta mata tempel itu ditaruh pada batang bawah Rough Lemon (RL) atau Japanese Citroes (JC), yang sudah biasa digunakan dalam produksi benih jeruk.

Yang sudah dimuliakan hingga menjadi jeruk tanpa biji antara lain jeruk keprok dan manis atau yang masyarakat biasa menyebutnya sebagai jeruk sunkist. Selain jeruk katagori buah meja, juga sudah dikembangkan pula benih jeruk nipis tanpa biji yang pernah menghebohkan masyarakat pada tahun 1980an. Bentuk dan warna daun jeruk serta buah nipis tanpa biji ini sangat berbeda dengan jeruk nipis kita yang berbiji. Daunnya lebih bulat namun meruncing di bagian atas dengan tepian daun bergerigi lebih tajam. Warna daun dan buah lebih mudadan terang. Percabangannya sangat rapat dengan buah yang sangat lebat serta dompolan berisi banyak buah. Namun jeruk nipis tanpa biji yang mula-mula berkembang di Purwokerto, Jateng ini, memiliki kelemahan aromanya kurang tajam dan airnya sedikit, bahkan kadang-kadang sama sekali tidak berair.  Hingga suatu ketika diketemukan benih jeruk nipis “lokal” yang berukuran besar-besar, berbuah lebat dan tanpa biji. Air buah banyak dan aromanya sangat tajam. Masyarakat perbuahan, menyebut jeruk nipis baru yang tanpa biji ini sebagai jeruk nipis tanpa biji taiwan.  Ciri khasnya mirip dengan tanaman buah jeruk seedless lain, ditandai dengan daunnya yang berwarna hijau gelap, tebal dan kekar. Diduga, jeruk nipis lokal seedless ini juga merupakan jeruk triploid hasil pemuliaan melalui penyilangan jeruk nipis 2N dan 4N.

Jadi kalau kita menyantap jeruk keprok atau jeruk manis yang tanpa biji, maka itu semua merupakan hasil kerja rekayasa genetika yang sangat rumit dan panjang. Memang ada juga jeruk maupun jambu biji yang karena penyimpangan genetik secara alami, telah menghasilkan buah tanpa biji. Inilah yang terjadi pada jambu sukun kita, manggis seedless yang diketemukan di Malaysia, durian hepe dari Jabar serta durian sukun dari Jateng. Juga pada buah sukun sendiri. Ada forma sukun yang berbiji yang disebut keluwih, ada juga forma yang tidak berbiji yang disebut sukun. Dalam acara Flona di Lapangan Banteng tersebut, seorang penangkar juga telah menemukan buah jamblang (duwet/juwet) putih yang tidak berbiji. Biasanya jamblang berwarna merah kehitaman seperti anggur. Ketika tahun 1990an awal penangkar buah menawarkan jamblang forma putih, maka masyarakat pun menyambutnya dengan sangat antusias. Sebab kalau jamblang merah yang buahnya besar-besar itu biasanya masam dan sepat, maka jamblang putih ini manis dan tidak sepat. Dan sekarang diketemukan buah jamblang tanpa biji. Keberatan konsumen terhadapjamblang adalah, daging buahnya sangat tipis sementara bijinya yang justru dominan.  Hingga jamblang putih yang seedless akan menjawab keluah konumen terhadap rasa dan gangguan biji tersebut.

Teknik penciptaan buah tanpa biji,tentu tidak hanya sekadar dengan teknologi penyilangan tanaman 2N dan 4N hingga menghasilkan tanaman triploid yang seedless. Anggur tanpa biji, biasanya diperoleh dengan menyemprotkan hormon giberellin pada pentil buah (buah yang sangat muda). Hingga pertumbuhan biji akan terhambat. Namun kelemahan anggur seedless ini kecil-kecil. Hingga biasanya anggur seedless tidak dijadikan buah meja melainkan dikeringkan menjadi kismis. Sebenarnya dengan rekayasa genetik dalam lab yang lebih rumit, DNA (Deoxyribonucleaic Acid) tanaman bisa direkayasa hingga bisa dihasilkan buah-buahan tanpa biji. Kelemahannya, teknologi rekayasa genetika memerlukan biaya yang sangat tinggi. Hingga rekayasa genetika, termasuk pada produksi benih transgenik, menjadi sulit untuk diterapkan pada tanaman buah. Yang sudah dibenihkan secaramassal dengan rekayasa genetika, kebanyakan tanaman pangan seperti gandum, jagung, kedelai dan kacang tanah. Namun produk pangan denganbenih transgenik yang dikembangkan AS, akhir-akhir ini banyak ditolak oleh MEE dan Jepang. (R) * * *