Durian (Durio zibethinus), adalah buah tropis andalan  ekspor Thailand. Bagaimana mungkin buah yang berduri tajam, mudah rusak (busuk) dan  terlarang bagi hotel bintang serta pasawat terbang itu bisa menjadi komoditas ekspor? Itulah hebatnya Thailand. Negeri Gajah Putih itu telah mempu menciptakan pasar. Baik di Asia (Indonesia, Singapura, Hongkong, Taiwan, Jepang dan Korea), Timur Tengah, Eropa bahkan Amerika Serikat dan Kanada. Setiap bulan Mei, Juni, Juli sampai Agustus negara-nagara tadi akan kebanjiran durian Monthong dari Thailand. Di pasar swalayan Jakarta, harga durian impor ini paling murah Rp 15.000,- per kg berikut kulitnya. Kalau satu butir durian monthong itu beratnya 4 kg, maka harganya sudah Rp 60.000,- Itu tadi harga termurah. Pada bulan-bulan lain, harga durian monthong itu bisa sampai Rp 35.000,- per kg. Berarti per butirnya mencapai Rp 140.000,-.

Di Thailand sendiri, harga durian monthong saat panen raya bisa jatuh di bawah harga dasar yang ditetapkan petani 15 Bath per kg. Dengan kurs 1 Bath Rp 300,- jatuhnya jadi Rp 4.500,- per kg. Jadi kalau pada bulan-bulan Mei dan Juni harga durian jatuh menjadi 13 Bath misalnya, petani akan rugi. Pada saat itulah pemerintah Thailand turun tangan memberikan subsidi 2 Bath. Subsidi ini dibatasi paling lama 2 minggu. Biasanya belum sampai 2 minggu harga sudah kembali di atas harga dasar. Harga durian paling rendah di Thailand tidak pernah kurang dari 10 Bath (Rp 3.000,-). Tetapi pada saat-saat tidak musim, harga itu bisa melambung sampai 80 Bath (Rp 24.000,-) per kg. Ada empat varietas durian yang dikembangkan Thailand. Selain monthong (artinya si bantal emas = golden pillow) masih ada lagi karn you, chanee dan kradum thong.

Malaysia tampaknya tidak mau ketinggalan dengan Thailand. Sejak tahun 80an mereka telah mengembangkan varietas lokal mereka yang diberi nama D 24. D adalah kependekan dari durian. Sementara 24 adalah nomor klon yang kemudian dikembangkan secara vegetatif. D 24 produk Malaysia ini juga sudah mulai kelihatan dijajakan di Singapura, Hongkong dan Taiwan. Bagaimana dengan Indonesia? Sampai saat ini Menteri Pertanian RI telah melepas (merilis) sekitar 30 varietas durian unggul. Di antaranya si tokong dari Pasar Minggu, hepe dari Jonggol, matahari dari Cimahpar, petruk dari Jepara, sunan dari Boyolali dan sukun dari Karanganyar. Termasuk pula dua varietas introduksi dari Thailand. Monthong dilepas sebagai si otong dan chanee menjadi si kani. Dibanding dengan Thailand dan Malaysia, Indonesia memang paling banyak memiliki varietas bahkan spesies asli durian.

Sayangnya, sampai dengan tahun 2001 ini, di Indonesia belum ada kebun durian berskala komersial dalam luasan yang memadai dengan jumlah cukup. Tercatat yang menjadi perintis kebun durian skala komersial (verietas monthong) adalah Warso Farm di Cijeruk, Boy di Leuwiliang (Bogor) dan Bernard Sadani di Cikalong Kulon, Cianjur. Sementara Anas Farm (Matahari Grup) memilih mengembangkan D 24 di kab. Sukabumi. Masih ada beberapa kebun lain yang kecil-kecil atau yang cukup luas tapi belum produktif misalnya kebun milik Eric di Subang. Sebenarnya beberapa tahun silam OECF (Overseas Economical Cooperative Fund), sebuah lembaga donor Jepang telah memberikan bantuan untuk pengembangan kebun buah-buahan di 31 kabupaten (15 provinsi). Di antara jenis buah-buahan yang dibantu pengembangannya adalah durian. Namun pola pendakatan yang dilakukan oleh Departemen Pertanian pada waktu itu adalah pendekatan “proyek” hingga hasilnya hampir tidak tampak. Proyek durian OECF yang kelihatannya masih relatif baik hanya tersisa di provinsi Jambi.

Menguntungkankah sebenarnya mengebunkan durian? Jelas sangat menguntungkan. Untuk gambaran, Supathra Land di provinsi Rayong, Thailand; hanya membuka kebun durian seluas 150 hektar. Sebagai perbandingan luas kebun mangga Galasari di Gresik dan kebun jeruk Sungai Budi di Sumedang adalah 500 hektar. Tahun 1995, di halaman rumput di kebun milik keluarga Supathra itu sudah diparkir Baby Band 500. Saat ini pun, Baby Band 500 di Indonesia hanya dimiliki oleh kalangan yang sangat elit dan pasti bukan petani durian. Kini kebun Supathra itu sudah menjadi tempat tujuan wisata yang terbuka untuk umum dan sangat ramai. Income utamanya tetap dari durian, tetapi ada pemasukan tambahan dari kunjungan wisata. Rata-rata petani durian di Thailand (juga petani buah lainnya) memang bisa hidup layak dan lebih baik dibanding petani karet, padi atau palawija. Tetapi investasi berkebun durian juga relatif tinggi dibanding karet atau tanaman semusim.

Nilai investasi (amortisasi) kebun durian, berkisar antara Rp 50.000.000,- sampai Rp 150.000.000,- per hektar. Untuk perbandingan investasi sawit hanyalah Rp 20.000.000,- per hektar. Tetapi hasil dari durian memang sangat tinggi. Kalau kita hitung dengan patokan harga terendah di Thailand Rp 3.000,- per kg. maka harga per butirnya sudah mencapai Rp 12.000,- Kalau satu pohon umur 10 tahun mampu berproduksi sampai 50 butir (10 cabang, per cabang 5 butir), maka tiap pohon akan menghasilkan Rp 600.000,- Populasi durian per hektar rata-rata 100 pohon. Hingga hasil per hektar per musimnya mencapai Rp 60.000.000,- Hasil padi di sawah, dengan  panen optimal tiga kali setahun @ 6 ton per hektar dengan harga Rp 1.000,- per kg, hanyalah Rp 18.000.000,- Jadi kelihatan betapa menguntungkannya berkebun durian. Kalau skala minimal berkebun durian adalah 10 hektar, maka nilai investasinya berkisar antara Rp 500.000.000,- sampai Rp 1.500.000.000,- Tetapi pendapatan minimalnya mencapai Rp 600.000.000,- per tahun. Ini masih dengan patokan harga terendah di Thailand, Rp 3.000,- per kg. Kenyataan di lapangan, Warso Farm atau Bernard Sadani mampu menjual durian mereka dengan harga antara Rp 15.000,- sampai Rp 35.000,- per kg langsung di kebun.

Tentu ada pertanyaan. Kalau semua orang mengebunkan durian, apakah tidak jenuh? Tentu akan ada titik optimal. Petani Thailand misalnya, sekarang mulai beralih meremajakan durian mereka dengan manggis. Tetapi untuk Indonesia, seandainya dalam kurun waktu 20 tahun ke depan ini dibuka sampai 100.000 hektar kebun durian pun, masih akan bisa diserap pasar. Dengan hasil 50 butir per pohon, dengan bobot buah 4 kg per butir, dengan populasi 100 pohon per hektar, maka 100.000 hektar kebun itu hanya akan memproduksi 2.000.000 ton durian. Dengan penduduk Indonesia yang sekitar 200.000.000 jiwa, maka kemungkinan mengkonsumsi durian sebanyak 10 kg, (3 butir @ 3,3 kg) per kapita per tahun, masih sangat rasional. Lebih-lebih kalau kita perhitungkan kemungkinan untuk mengekspornya. Pada saat Indonesia panen durian sekitar bulan-bulan Desember, bertepatan di Thailand sedang terjadi kekosongan durian. Eksportir durian Thailand sudah berulangkali “menghimbau” para investor Indonesia untuk mau menanam durian. Bahkan mereka bersedia memberikan asistensi teknis sampai mau pula ikut investasi.

Apabila sampai saat ini kebun durian skala komersial masih belum berkembang di Indonesia, tentu ada beberapa penyebabnya. Pertama, banyak investor belum tahu peluang tersebut. Kedua, informasi serta hasil penelitian tentang durian di Indonesia masih sangat sedikit. Informasi yang lengkap masih dalam bahasa dan huruf Thailand. Orang Indonesia yang tahu pertanian dan melek huruf Thailand, saat ini  baru ada satu dan kurang didayagunakan. Ketiga, ketersediaan bibit berkualitas juga masih sangat terbatas. Para penangkar di Pekalongan (Lampung); di sekitar Bogor dan di Rajagaluh (Majalengka); memang telah mampu memproduksi sekitar 2.000.000 batang bibit per tahun. Tetapi tidak ada jaminan bahwa bibit durian monthong yang mereka produksi memang benar-benar monthong sesuai dengan kehendak pasar. IPB pernah melakukan pengujian DNA di salah seorang produsen bibit. Hasilnya, durian monthong yang dihasilkan ada empat macam dan tidak ketahuan mana yang sesuai dengan monthong Thailand.

Dalam hal standarisasi, termasuk standarisasi benih, Indonesia masih sangat lemah. Pelabelan yang dilakukan oleh BPSB (Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih), masih terbatas pada benih padi dan palawija. Belum menyentuh ke benih buah-buahan tanaman keras termasuk durian. Pusat Standarisasi dan Akreditasi (PSA) Departemen Pertanian, baru dibentuk tahun ini. Itulah kendala-kendala yang menyebabkan kebun durian skala komersial belum juga berkembang di Indonesia. Selain kendala-kendala teknis lain. Misalnya soal perijinan yang di era otonomi daerah ini justru semakin sulit. Memang ada beberapa pemda kabupaten yang sangat terbuka dan mudah. Tetapi terbanyak justru makin memanfaatkan situasi ini untuk aji mumpung. Mulai dari RT/RW, Lurah, Polsek, Camat, Kepala-kepala  Dinas, sampai ke Bupatinya memanfaatkan aji mumpung ini. Hingga cuma untuk membuka kebun durian seluas 10 hektar pun, proses perijinannya seperti mau membuat instalasi nuklir. Ada belasan meja yang harus diservis dengan segala tetekbengek kerewelannya. Belum lagi “keberingasan” masyarakat yang nafsu menjarahnya akhir-akhir ini semakin menjadi-jadi.

Sumber: Forum kerjasama agribisnis