[media perkebunan] – Imunisasi atau induksi resistensi atau resistensi buatan adalah satu proses stimulasi resistensi tanaman inang terhadap patogen tanaman tanpa introduksi gen-gen baru. Teknologi imunisasi atau proteksi silang merupakan salah satu cara pengendalian penyakit tanaman dengan melalui stimulasi aktivitas mekanisme resistensi melalui inokulasi mikroorganisme non patogenik atau patogen avirulen maupun strain hipovirulen serta perlakuan substan dari mikroorganisme dan tumbuhan pestisida nabati.

Mekanisme induksi resistensi (imunisasi) menyebabkan kondisi fisiologis yang mengatur sistem  ketahanan menjadi aktif atau menstimulasi mekanisme resisten yang dimiliki tanaman. Imunisasi tidak menghambat pertumbuhan tanaman bahkan dapat meningkatkan produksi pada beberapa tanaman meskipun tanpa adanya patogen dan memberikan suatu cara untuk bertahan terhadap stress lingkungan (Tuzun dan Kuc, 1991; Kloper, 1997).

Pra-inokulasi dengan agen penginduksi dapat mengaktifkan secara cepat berbagai mekanisme resistensi tanaman diantaranya akumulasi fitoaleksin, dan meningkatkan aktivitas beberapa jenis enzim penginduksi seperti beta-1,4-glukosidase, chitinase dan beta-1,3 glukanase. Senyawa fitoaleksin adalah substansi antibiotik yang diproduksi oleh tanaman inang apabila ada infeksi patogen atau pelukaan. Senyawa fitoaleksin nampaknya lebih banyak terbentuk dalam tanaman jika menggunakan mikroorganisme non patogenik dibandingkan hypovirulen (Fuchs et al., 1997; Rahmini, 2005).

Sinyal penginduksi resisten dapat berupa agen penginduksinya atau sinyal yang disintesis tanaman akibat adanya agen penginduksi. Sinyal tersebut diproduksi pada suatu bagian tanaman, namun dapat berperan pada bagian lainnya. Transinduksi sinyal dapat ditransfer secara intraseluler sehingga menimbulkan sistem ketahanan tanaman secara sistemik.

Teknologi imunisasi (induksi resisten) dengan menggunakan mikroorganisme sebagai penginduksi sudah dikembangkan dan digunakan di lapangan di negara-negara maju beberapa tahun sebelumnya (Tuzun dan Kuc, 1991), pada berbagai tanaman komersial seperti tomat, kentang, gandum, straberri dan lain-lain.

Pada tahun 1980-an, Komada seo peneliti Jepang mempublikasikan temuannya mengenai penggunaan Fusarium oxysporum non patogenik (F.o.NP) untuk menginduksi ketahanan tanaman ubi jalar terhadap penyakit busuk Fusarium. Hasil temuan itu menjelaskan bahwa penggunaan F.o.NP efektivitasnya tidak berbeda nyata dengan penggunaan Benomil yang merupakan fungisida andalan untuk mengendalikan penyakit tersebut pada saat itu (Ogawa dan Komada, 1988).

Di Indonesia, penggunaan mikroorganisme ini sudah dikembangkan pada tanaman vanili khususnya untuk penyakit BBV selama beberapa tahun terakhir ini (Tombe, 2004) an sudah aplikasi sampai tingkat lapangan, sedangkan penggunaannya pada penyakit BPB (Busuk Pangkal Batang) pada tanaman lada baru proses awal yaitu pada tingkat rumah kaca (Noveriza et al., 2005).

Hasil penelitian Balittro pada tanaman vanili telah ditemukan Fo.NP strain F10-AM yang diisolasi dari tanaman vanili sehat. Pra-inokulasi stek vanili dengan menggunakan konidia isolat itu dapat menghambat infeksi patogen BBV pada tanaman yang diberi perlakuan. Mikroorganisme itu telah diproduksi dalam bentuk formula agar memudahkan pelaksanaannya dan sudah dipatenkan di Ditjen HAKI.

Sejak tahun 2001, teknologi ini telah digunakan secara luas di beberapa propinsi di Indonesia terutama di Bali. Penyebaran dan aplikasi teknologi ini dilakukan dalam bentuk waralaba dengan pihak swasta lokal yang pada saat ini telah berada di 12 propinsi di Indonesia.

Tips Imunisasi Bibit Kakao

Teknologi imunisasi ini ternyata juga bisa dimanfaatkan untuk tanaman kakao yang tahan penyakit. Dengan teknologi ini dapat dihasilkan tanaman yang memiliki produktivitas tinggi dan tahan terhadap penyakit. Adapun langkah-langkah penerapan teknologi ini adalah sebagai berikut:

(1)   Benih yang digunakan adalah benih yang sudah direkomendasikan oleh Departemen Pertanian. Benih tersebut berasal dari buah berbentuk normal, sehat dan sudah matang.

(2)   Buah dipotong membujur lalu benih yang beraa di bagian tengah diambil dan dibersihkan dengan serbuk gergaji/cocopit dan dicuci dengan air bersih kemudian dicelupkan kendlm BioFOB EC selama 10 menit kemudian dikeringanginkan.

(3)   Sebelum benih disemaikan terlebih dahulu dicelupkan sekali lagi dalam larutan BioFOB EC. Bisa juga menggunakan BioFOB WP akan tetapi sebelumnya dicelup dulu ke dalam air aqua/air minum, kemudian benih tersebut dicampur dengan BioFOB WP.

(4)   Benih yang selesai diberi perlakuan selanjutnya 1/3 bagian dibenamkan ke dalam lapisan pasir yang diatasnya telah diberi dengan Organik-FOB yang telah terdapat dalam bedengan (tanah bedengan dicangkul sedalam 30 cm, kemudian lapisan atas diberi pasir setebal 10 cm dan diatasnya ditaburi dengan organik FOB secukupnya).

(5)   Sesudah 4-5 hari, di persemaian benih sudah berkecambah. Selanjutnya dipindahkan ke dalam polybag 20 x 30 cm media tumbuh. Media yang digunakan dalam polybag adalah campuran tanah, pupuk OrganoTRIBA, pasir dengan perbandingan 2:2:1. masukkan satu kecambah kako ke dalam lubang sedalam telunjuk lalu lubang ditutup dengan OrganoTRIBA.

(6)   Polybag berisi kecambah disimpan di lokasi pembibitan dengan jarak 60 cm dalam pola segitiga sama sisi. Lokasi pembibitan dinaungi dengan paranet atau anyaman bambu atau sejenisnya yang terdapat di lokasi.

(7)   Pembibitan disiram 2 kali sehari kecuali kalau ada hujan. Untuk merangsang pertumbuhan tanaman bibit dapat disiram dengan BioTRIBA 2 minggu sekali dengan dosis 10 ml/liter air. Pemupukan dapat dilakukan setiap 2 minggu dengan menggunakan NPK 2 gram/bibit sampai umur 3 bulan. Bibit siap ditanam setelah berumur 4-5 bulan dan berdaun 20-45 helai [HS]

Sumber :

Majalah Media Perkebunan Edisi 70 25 Februari – 25 Maret 2009. Halaman 36.