Laporan M Fathra Nazrul Islam,Tembilahan
mfathranazrulislam@riaupos.com

MENJAWAB keluhan ribuan petani duku di sejumlah desa di Kecamatan Kemuning, atas serangan hama yang menyebabkan matinya ribuan pohon duku di daerah itu, Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Holtikultura (TPH) Kabupaten Inhil mengintensifkan penanggulangan dua bulan ke depan.

Hal ini ditegaskan Kepala Dinas Pertanian TPH Inhil, drh Urip Sukarno saat ditemui di kantornya, Kamis (7/1). Dia mengaku sudah turun langsung ke lokasi beberapa waktu lalu, dan melihat langsung keganasan hama tanaman duku, sejenis kutu perisai tersebut. ‘’Sebenarnya ini kasus lama yang muncul sejak tahun 2006, dan saat ni kita kembali lakukan penanggulangannya,’’ tegas Urip.

Kadis Pertanian TPH itu mengakui bahwa pihak kecamatan juga sudah mengirimkan surat mengenai keluhan masyarakat petani duku di Kemuning, dan ditindak lanjuti dengan menurunkan tim ke lokasi. Berdasarkan peninjauan dan uji laboratorium yang dilakukan petugas dari laboratorium pengamatan hama penyakit tanaman Pekanbaru, telah dikeluarkan diagnosa bahwa tanaman duku tersebut diserang oleh hama kutu penggerek ranting atau kutu perisai.

Gejala serangan hama kutu tersebut diketahui terjadi pada batang dan cabang. Hal itu bisa dilihat dengan ditemukan adanya liang-liang kecil bekas gerekan. Bisa dilihat lebih jelas bila batang dan ranting tersebut dibelah, maka akan terlihat lorong-lorong bekas gerekan serta larva di dalamnya.

Pada tingkat serangan lebih lanjut, hama kutu bisa menyebabkan cabang dan ranting mengering dan mati, serta mudah patah diterpa tiupan angin. Adanya luka pada cabang dan ranting akibat gerekan larva dapat menjadi tempat penetrasi dari patogen skunder pada tanaman.

‘’Yang diserang hama ini cuma tanaman duku. Hama kutu menyerang saluran makanan pada pohon sehingga transportasi nutrisi makanan tidak lancar. Akibatnya daun berguguran serta mengakibatkan kematian tanaman duku, dan berakibat juga pada penurunan produksi,’’ tutur Urip Sukarno. Penanggulangan awal yang sudah dilakukan ialah dengan memberikan insectisida yang direkomendasikan oleh laboratorium pengamatan hama penyakit tanaman Pekanbaru, di antaranya berupa dursban 20 EC, azodin 15 WSC dan tamaron 200 LC.

Selain itu penanggulangan juga di intensifkan dengan memberikan jenis pupuk organik cair yang terbuat dari limbah, yang diformulasi oleh Ir Urip Sukarno. Cara pemberian pupuk organik tersebut dilaklukan di daerah tajuk tanaman duku, dan sudah di uji coba sebanyak satu derigen isi 5 liter untuk 30 pohon duku. Pemberian pupuk organik ini akan dilakukan satu kali dalam sebulan, dan hasilnya bisa dilihat setelah dua bulan pertama.

Urip sendiri masih belum mempublikasikan formulasi pupuk organik temuannya tersbeut karena masih dalam tahap uji coba untuk tanaman duku. Menurutnya, pupuk organik itu juga bisa memulihkan kondisi pohon kelapa yang terserang hama bronthispa, dan sudah sudah diuji cobakan. ‘’Pupuk ini bukan pestisida kimia, tapi dari limbah alami,’’ kata Urip sembari mengatakan masih melakukan pengkajian mendalam terkait temuan formulasinya itu.

Guna membantu penanggulangan hama duku di sejumlah desa di Kecamatan Kemunging, khususnya di Desa kemuning Tua, Kemuning Muda, Limau Manis, Lubuk Besar, Talang Jankang, dan Desa Air Baluai, Urip juga meminta petani membersihkan kebun duku dari semak yang berpotensi mempermudah berkembang biaknya hama kutu. Saat ini sesuai data yang sudah dilaporkan petani, sudah ada ribuan pohon yang rusak dan mati akibat serangan hama tersebut, dan umumnya berada di daerah dipinggiran sungai.(rnl)